Indikator Kesejahteraan Umum

Pertumbuhan ekonomi  secara umum dapat ditunjukkan oleh angka Produk Domestik Ragional Bruto (PDRB), Investasi,Inflasi,pajak dan retribusi, pinjaman dan pelayanan bidang ekonomi. Khusus untuk nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) secara nyata mampu memberikan gambaran mengenai nilai tambah bruto yang dihasilkan unit-unit produksi pada suatu daerah dalam periode tertentu. Lebih jauh, perkembangan besaran nilai PDRB merupakan salah satu indikator yang dapat dijadikan ukuran untuk menilai keberhasilan pembangunan suatu daerah, atau dengan kata lain pertumbuhan ekonomi suatu daerah dapat tercermin melalui pertumbuhan nilai PDRB.

Sehingga selain PDRB ada indikator lain  untuk mengukur tingkat kesejahteraan umum dan PDRB menjadi bagian dari ukuran ini. Ukuran ini menjelaskan  pelbagai indikator yang ada, ukuran itu adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM) paling tepat dipakai untuk mengukur profil kesejahteraan umum. Indeks pembangunan Manusia (IPM) adalah  Indeks yang digunakan  untuk menggambarkan capaian disektor kesejahteraan masyarakat secara agregat, karena indeks ini menangkap perkembangan di sektor ekonomi dan sektor sosial sekaligus.

Di dalam indeks ini, kesejahteraan tidak hanya ditilik melalui perspektif ekonomi semata sebagaimana lazim terekam dalam Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita, tetapi juga diteropong via capaian disektor sosial, yakni pemdidikan dan kesehatan. Dalam hal yang terakhir, Tingkat Melek huruf (TMH) dan Tingkat Harapan Hidup (THH) adalah dua indikator yang lazim termaktub dalam konstruksi IPM.

Sebagai Pemerintah baik pusat maupun daerah tidak terkecuali Pemerintah Kota Pekanbaru dalam rangka ingin mencapai peningkatan IPM (Indeks pembangunana Manusia) ini telah membuat fokus fokus pekerjaan sehingga berbagai macam program dan kegiatan bisa dibuat dan dilaksanakan. Fokus-fokus itu adalah :

Pertama, Fokus Kesejahteraan dan pemerataan Ekonomi yang memiliki Indikator ; Pertumbuhan Ekonomi, Pengendalian Inflasi, PDRB Perkapita, Indeks Gini yang rendah, Pemerataan Pendapatan, Penurunan penduduk miskin dan Kriminalitas yang semakin menurun.  Kesemua Indikator ini memiliki ukurannya masing masing dan bisa dijadikan sarana evaluasi apakah Pemerintah sukses atau gagal dalam mengurus rakyatnya.

Fokus yang kedua adalah Fokus Kesejahteraan Masyarakat. Fokus yang kedua ini juga memiliki Indikator yaitu ; Angka Melek Huruf, Angka rata-rata lama sekolah, Angka partisipasi kasar, Angka pendidikan yang ditamatkan dan Angka Partisipasi Murni. Indikator ini tergabung dalam Fokus Kesejahteraan Masyarakat di Bidang Pendidikan. Selanjutnya Fokus Kesejahteraan Masyarakat di Bidang Kesehatan memiliki Indikator ; Angka Kelangsungan Hidup Bayi, Angka Usia Harapan Hidup, Persentase balita gizi buruk.

Fokus yang ketiga adalah Fokus Seni Budaya dan Olahraga yang memiliki Indikator Jumlah grup kesenian yang ada, jumlah gedung kesenian yang ada, jumlah klub olahraga yang ada dan jumlah gedung olahraga yang ada.

Indikator indicator ini sangat luas dan menarik untuk dibahas lebih lanjut dalam artikel-artikel berikutnya. Namun ada yang sedikit menarik dan menggelitik ketika kita melihat mengapa ada Fokus Seni Budaya dan Olahraga yang juga termasuk dalam ukuran ukuran kesejahteraan. Jawabanya  cukup panjang dan mungkin menarik untuk sedikit kita diskusikan pada tulisan ini.

Pembangunan bidang seni, budaya dan olahraga sangat terkait erat dengan kualitas hidup manusia dan masyarakat. Hal ini sesuai dengan 2 (dua)  sasaran pencapaian pembangunan bidang sosial budaya dan keagamaan yaitu (i) untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya dan beradab serta (ii) mewujudkan bangsa yang berdaya saing untuk mencapai masyarakat yang lebih makmur dan sejahtera.

Secara mudah dapat kita gambarkan ketika kita melihat Negara-negara maju yang masyarakatnya relatif sudah sejahatera dalam hal ini sebagai contoh adalah Negara Negara Eropa barat dan skandinavia. Biasanya Negara tersebut masyarakatnya sangat mengapresiasi seni. Hal ini dibuktikan dengan begitu banyaknya galeri seni, gedung kesenian, teater dan festival-festival kesenian yang dilaksanakan sepanjang tahun. Selain tinggi apresiasi seninya biasanya mereka juga memiliki prestasi dibidang olahraga ditingkat dunia.

Kenyataan lain yang bisa kita lihat masyarakat sejahtera tersebut sudah tidak memikirkan lagi untuk pemenuhan kebutuhan pokok karena sudah terpenuhi. Oleh karena itu waktu yang tersedia bisa disediakan sebahagian untuk menikmati kesenian dan olahraga.

Diharapkan dengan fokus terhadap 3 (tiga) bidang tersebut dengan berbgai indicator indicator tersebut maka pendapatan masyarakat akan meningkat, Tingkat Melek huruf (TMH) juga meningkat dan Tingkat Harapan Hidup (THH) juga akan terus naik. sehingga ketika konstruksi IPM ini sebagai ukuran kesejahteraan meningkat IPM juga akan meningkat.

Paradigma yang mengatakan bahwa kesejahteraan itu hanya ditangkap disektor ekonomi saja otomatis gugur karena indeks pembangunan manusia (IPM) telah menjawabnya dengan menggambarkan capaian disektor kesejahteraan masyrakat secara agregat. Sektor ekonomi dan sektor sosial sekaligus digambarkan dalam indeks ini sehingga kesejahteraan umum dapat diukur dengan cakupan yang luas. Indeks pembangunan manusia (IPM) juga mampu menjelaskan ukuran-ukuran dalam infrastruktur dan kelembagaan yang dibentuk oleh pemerintah hal inilah yang menyebabkan IPM mampu mendapatkan gambaran capaian pembangunan dalam sector ekonomi dan sosial.   

Bukankah kesejahteraan adalah amanah dari konstitusi dan tujuan dari Negara ini, dimana “Mencerdaskan Kehidupan bangsa” & “Memajukan Kesejahteraan Umum” akan selalu terpatri dan abadi dalam pembukaan konstitusi Negara ini. Ketika Indikator telah dirumuskan, tantangan berikutnya adalah eksekusi dan Implemtasinya.

 

Sumber : http://bappeda.pekanbaru.go.id/artikel/8/indikator-kesejahteraan-umum/page/1/

Produk Bappeda

Copyright © 2021 Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Kota Bogor. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU General Public License.
Monday the 29th.
Copyright 2012

©